Kamis, 14 Februari 2013

Sambel Goreng Cinta




         Hawa panas di Singapura memang membuatku jatuh cinta pada Ice cream, “kewarung ah... beli ice ceam yang dingin-dingin empuk!” aku bergegas turun dari apartemen.
 Di depan warung aku berpapasan dengan seorang gadis Indonesia, bahkan, aku sering berpapasan denganya tapi kami tak pernah bertegur sapa. kelihatanya dia seorang gadis cantik yang lugu, maka itu dia nggak berani bertegur sapa dengan orang lain takut di marahin oleh majikanya.
 Aku coba tersenyum padanya, dia pun membalas senyumku. “Hi...!” aku menyapanya. “Hi, juga.” Ia membalas sapaku sambil tersenyum.
“Habis belanja mbak?” tanyaku
 “Iya nich.... beli susu buat kirikku” jawabnya
“Ha...!!! Kirik...? apa itu kirik?” aku bertanya heran.
 “Kirik itu anjing,” tuturnya padaku
“Oooo.....! setahuku Anjing itu, Asu!.” Jawabku
 “Kamu orang mana sich....?” tanyanya
 “Aku..., asli Jawa Tengah, Cilacap Ngapak, kalo kamu sendiri dari mana?” jawabku seraya bertanya kembali padanya.
“Saya berasal dari Jawa Tengah, Tegal, ?” jawabnya
 “Oo,, iya. Dari tadi ngobrol kok nggak tau namanya, kenalan namaku Irasaputri” aku mengulurkan tangan tuk berjabat tangan denganya. “Siti Ihwindi, kamu udah lama tinggal di Singapore?” ia menjabat tanganku seraya bertanya.
 “Lumayan lama 2 tahun 2 bulan, kalau kamu??” jawabku dan bertanya .
“1 tahun 2 bulan, kamu tinggal di mana?”
 “Aku tinggal di blok 109, lantai 2.”jawabku
“Oo.... berarti di sebelah Blok saya, saya tinggal di Blok 101 lantai 2.”serunya
“Wah... jadi kita bisa intip-intipan lewat jendela dong....!” dia tersenyum, mendengar candaku.
“Ir, job mu ngurus apa?” tanyanya padaku
 “Job ku? Mm... babu Singapore, jaga dua Anak, umur tujuh tahun dan sepuluh tahun, kamu?” “Kalau aku janga dua anjing dan jaga boboh (nenek) tapi dia masih sehat, maaf Ir, aku harus segera pulang nanti {Boboh} nenek ku marah belanja kelamaan” lalu ia berlalu dari hadapanku. Sore harinya aku menemanai anak-anak bermain di play graond. Aku melihat siti membawa kedua anjingnya jalan-jalan di taman, ku panggil dia, sambil lambai-lamabaikan tanganku, dia menoleh kearahku ia pun segera menghampiriku. “Hiy...! Ir jam segini dah santai?” tanyanya. “Lagi nunguin anak-anak main” jawabku. “Ir, umur kamu berapa sich..? kok kelihatanya kamu masih imut-imut” tanyanya.
 “Umurku...? delapan belastahun, memangnya emba umur berapa?” aku menjawab dan bertanya dengan polos.
“Coba kamu tebak, umurku berapa?” tanyanya.
“Mm... sekitar 25 yah...?” aku menebak.
“Salah... umurku, 22, Ayahku jawa, Mamaku sunda yang naksir aku banyak... he he he... bercanda... Eh..! Ir kamu udah punya pacar apa belum?” Tanyanya padaku
“Pacar...! kalau Calon pacar banyak, tapi pacar aku nggak punya.” Jawabku dengan canda.
“Ir aku punya banyak kenalan cowok dari Malasiya, kaluo kamu mahu nanti kukenalin sama orang Jambi aku punya banyak foto cowok loh....” Siti mempromosikan.
“Boleh aku lihat fotonya?” pintaku. “Besok siang aja aku turun belanja” jawabnya.
“Oke! Kebetulan besok anak-anak pulang sekolah sore, mbak siti boleh aku minta no HP mu?” pintaku.
“Ir saya nggak punya HP” jawabnya.
 “Masa sich... punya banyak kenalan cowok, kok nggak punya HP, minta beliin dong sama yayangnya?” aku meledeknya. Ngobrol dengan Mbak Siti memang sangat menyenangkan, ngalor, ngidul,wetan, kulon pun di bicarakan.

       Dihari yang kami sepakati, Mbak Siti turun dari apartermen membawa setumpuk amplop surat, kubuka ammplop tersebut berisi foto dan surat, aku merasa penasaran kok bisa Mbak Siti punya kenalan sebanyak ini lewat surat menyurat dan saling kirim foto. “Mbak Siti, kok bisa punya kenalan sebanyak ini?” tanyaku heran. “Aku cuman kenalan lewat majalah, lalu kami saling kirim-kitim atensi” jawabnya. “Oooo...! Begitu yach caranya kenalan sama cowok” Aku sambil melihat foto-foto tersebut satu persatu, aku melihat foto cowok nganteng banget, mataku seraya melotot heran.
“Mbak Siti yang ini, ganteng banget siapa namanya?” aku bertanya penuh penasaran.
 “Namanya Alan firyawan, cowok ini yang mau aku kenalin kekamu dia orang Jambi”
 “Cek ck ck ck.....! keren banget cocok dengan namaya ALAN FIRYAWAN seperti panglima perang yang gagah berani badanya kekar manatap men...! Eh! Kamu nggak salah, kau kenal kan aku denganya, bagai mana dengan kamau?” tanyaku penuh keheran-heranan
“Saya sudah punya pacar orang Miyamar, dia kerja disini sebagai kuli bangunan, Fir pernah mengungkapkan perasaanya sich... kalau dia suka sama saya tapi, saya sudah ada yang punya” jelasnya padaku
“Oooo..., Firyawan di Malasiya kerja apa?” tanyaku
“Dia bilang kerja di kebun sayur.” jawabnya “Ha..!! Nggak salah cowok ganteng-ganteng begini kok, kerja di kebun sayur?” jawabku heran
“Ir, ini didalam suratnya ada nomor Hpnya kamu kenalan dan bertanya ama dia” saranya
“Oke, Aku kirim SMS sekarang ya?” Kucatat nomor HP Firyawan dan kukirim SMS.
 “Hi... Mas Firyawan kenalan, namaku Irasaputri, temanya Mbak Siti Ihwindi”
 “Ir, paling jam segini Firyawan masih kerja” siti berkata,

 Setelah itu kami pulang ke apartermen masing tuk menjalankan tugs sebagai babu Singapura, siang berganti sore tugas sebagai babu Singapura adalah memasak. disaat aku sedang asiyk memasak tiba-tiba HP ku berbunyi bertanda ada SMS masuk, Kubuka HP ternyata balasan dari Firyawan dan ku baca.
“Hiy... juga, senang kenalan denganmu, ngomong-nomong Ira lagi ngapain?” lalu aku segera membalasnya “Lagi masak, sambil pegang HP nich.... ” tak lama kemudian Firyawan balas SMS ku kembali.
“Awas! Loh.... masakanya gosong lagi masak apa tuch?” firyawan bertanya dan ku balas kembali “masak..... sambel goreng cinta nich.... mas fir mau coba ngga..?” balasan SMS ku
“Sambel goreng cinta? Pasti itu menu sepesial, bumbu dan bahanya apa aja tuch?” tanyanya
 “Tentu dong,! ini menu sepesial untuk para anak muda yang sedang jatuh cinta..., mas fir mau tahu bahan dan bumbunya meh....?” balasku Bahan yang harus disiapkan
=2 buah hati
 =1 batang cinta
 =1 kg kasih sayang
 =1 kg kemesraan
Bumbu yang harus disiapkan
$1 ons setia
 $1 ons cemburu
 $1 gr curiga
 $3 rasa *kangen* gelisah*resah
 Cara membuat
=satukan 2 hati menjadi 1 cinta kasih dan rasa,
 tepikan @curiga, @hilangkan cemburu , tuangkan kasih sayang dan atasnya di hiasi dengan “KESETIAAN” Sekarang jadi deh...! menu REMAJA untuk para anak muda, cobain dech pasti enak?” “Wah.....! bahan dan bumbunya sangat kmplit pasti enak dan lezat, tentu saja aku mau mencobanya!” balasan SMS Firyawan Aku merasa lucu SMS-an dengan firyawan, seperti biasa aku bertemu Siti aku bercerita tentang SMS Firyawan Siti pun teratawa geli mendengar ceritaku. “Ir kamu ada waktu? Anteriin aku belanja yuk?” ajaknya
“Belanja apa?” aku bertanya
“Saya mau beli HP, aku di kasih uang sama pacarku buat beli HP” jelasnya padaku
“Wah..! cowokmu baik banget, jangan-jangan... kamu diobok-obok ama dia yah.....?” aku meledeknya “Memangnya Saya air! Diobok-obok....” Siti tersipu malu Tiba-tiba HP ku berbunyi bertanda ada SMS masuk, ternyata firyawan yang SMS dan ku baca SMS nya
 “Hi sayang... lagi ngapain?” Aku kagt dia pangil aku Sayang lalu ku balas
 “Sayang-sayang sejak kapan Mas Fir pangil aku sayang?!” aku dan siti saling pandang bertatap muka seraya tertawa, tiba-tiba ada SMS kembali
 “Sejak De Ira ngasih aku Menu Remaja Sambel Goreng Cinta” balasan SMS firyawan.
“Oooo... itu aku cuman bercanda mah....!” aku membalas.
 “ Tapi aku suka sama buatan sambel goreng cinta buatanmu, De Ira sudah punya pacar apa blum ?”
 Aku dan Siti saling diskusi “aku harus balas apa Mbak?” aku bertaya pada Mbak Siti.
“Bilang aja belum punya pacar” siti memberiku saran.
 “Oke! Kubalas sms nya” jawabku mantap
“Ade belum punya pacar, memangnya Mas Fir mau jadi pacarku meh....?”
 “Dengan senang hati kalau De Ira mau jadi pacarku” Siti menceritakan tentang Alan Firyawan dari A sampai Z aku pun senang mendengar cerita tentang Firyawan. Aku dan Fir Yawan pun saling bertukar foto, Bunga-bunga cint puna bersemi dihatiku tapi aku bingung bagai mana harus bersikap, gimana menghadapi seorang pacar, sementara aku belum pernah pacaran aku mencoba SMS Firyawan.
 “Mas Fir lagi ngapain?” SMS pun terkirim taklama kemudian HPku berbunyi ada SMS masuk ternyata Firyawan balas SMSku dan ku baca.
 “Mas lagi mancing sambil main gitar, ada apa sayang?”
“M... Mas aku mau nanya, apakah mas pernah pacaran sebelum jadian sama ade?”
“Mas pernah suka sama cewek tapi...., setiap kali aku ngapel naik sepeda ontel dan dopetku tipis. Jadi dia lebih suka sama cowok yang ngapelnya naik sepeda motor dan dopetnya tebal, itu lah yang membuat nggak pede mendekati cewek.”
“Mas, seharusnya Mas selalu bersukur masih bisa naik sepeda ontel, orang lain cuman jalan kaki aja masih bersukur kalo tak punya kaki gimana? Sukurilah nikmat Allah, semakin banyak engkau bersukur makin bayak nikmat Allah yang akan diberikan-Nya”
“Ir, ternyata bibirmu manis, semanis dan seindah kata-katamu”
 “Ooo....! jadi selama ini mas lihat fotoku yang diamati bibirku yah...? awas yah.... kujitak kau...!”
 “Sini kalo bisa jitak Mas! Weee........!” Fir meledekku
“Iya akan ku jitak kau, jangan lari ya.....!?” Sungguh sangat lucu pacaran lewat HP walau lewat SMS.

 Pada siang hari perkerjaa ku sudah selesai semua, aku pergi keapartermen Siti, sesampai di depan rumah Mbak Siti aku melihat jedela kamarnya terbuka, berarti Mbak Siti ada dirumah, aku melihat dari jedela diatas meja ada foto Firyawan dibingkai dengan istimewa hatiku mulai remuk redam melihat kekasihku dipajang dikamar sahabat karibku, tak lama kemudian Mbak Siti menghmmpirikku.
“Hi! Kenapa kelihatanya wajahmu manyun?” Siti menegurku, dengan gugup aku menjawab teguranmya “Oh.... anu. Anu.. ... nggak kenapa-napa kok! maaf aku mau balik keapartermenku dulu ada sesuatu yang lupa belum aku matikan.”
 “Loh... kok terburu-buru” Hatiku benar-benar bergejolak remuk redam, ada apa sebenarnya diantara Mbak Siti dengan Firyawn.. Awan mendung menutupi jalan pikiranku, hujan tak di undang turun tepat dikepalaku. aku di godok oleh api cemuru, rasa resah, gelisah membuncah menutupi mata hatiku, aku berpikir dari pada pagar makan tanaman lebih baik kuputuskan hubunganku dengan Firyawan, dengan emosi ku kirim SMS buat firyawan dan Siti Ihwindi, pertama aku mengirim SMS buat Firyawan.
“Fir sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dam mbak Siti?” Satu SMS telah ku kirim untuk Firyawan. Kemudian aku mengirim SMS buat Siti Ihwindi.
 “Mbak Siti..., lebih baik kita akhiri persahabatan kita sampai disini.” Tak lama kemudian ada balasaakn sms, ternyata Mbak Siti balas smsku.
“Apa maksudmu Ir...?” “Aku ingin berhenti menjadi sahabatmu, aku tak bisa mempunyai sahabat yang memakan hati sahabatnya sendiri.” “Apa sich maksudmu aku tidak mengerti..,” “kamu masih nggak ngerti..? wanita mana kalau melihat foto kekasihnya di pajang dengan bingkaian istimewa dikamarnya sahabat karibnya, sementara kamu simpan dan kau abadikan surat-surat Firyawan” perdebatan di sms itu semakin seru. “Ir lebih baik kita turun bicara baik-baik. Ir aku tunggu kamu di bawah blok aku tak perduli saya dimarahim majikan, demi kamu aku tak mau kita putus persahabatan” Sejak itu SMS ku terhenti dan aku menuju ke jendela pandanganku menyambar ke bawah blok apertemanya Siti, di sana aku melihat Siti duduk seperti orang memohon hujan segera turun dari lamgit namun tak kunjung turun jua.. kulihatin dia terlihat gelisah dan letih aku tak kunjung menemui juga. Namun hatiku tetap bersi keras, ogah untuk menemuinya. Waktu sudah menunjukan jam 4:00 sore kulihat dia masih duduk di sana, Aku juga belum dapat balasan SMS dari Firyawan, Hatiku pun semakin gelisah apa yang harus aku lakukan, Sejenak aku berfikir untuk menanyakan kepastian dari Firyawan. “firyawan tidak balas SMS ku, berarti terbukti kalau mereka ada hubungan percintaan di belakangku.” Bisik hatiku. Kembali aku melihat kearah jendela, Siti masih terduduk lemas di sana, hatiku pun mulai tak tega melihatnya duduk di sana terlalu lama. Aku turun dari apartermen menemui Siti dengan sikap kaku, murung di wajahku.
“Aku sudah turun, mhau kamu apa?” tanyaku dingin “Ir, aku sama firyawan hanya sebatas teman, aku mengangap dia seperti abangku sendiri..., Ir, saya rela kehilangan seribu cowok tapi aku tak mau kehilangan kamu karena kamu lah temanku yang selama ini bisa membuatku tertawa.”
 “Aku tak perduli, mahu kau anggap dia abangmu kek... ijomu kek... lebih baik sekarang kamu pulang, aku mau naik ke apartermenku lagi.” Tegasku seraya memalingkan mukaku beranjak meninggalkan Siti, Namun dia menghadang langkahku. “Ir, ini surat dan foto Firyawan aku serahkan padamu, kalau kamu tak percaya oke aku menelfon Firyawan sekarang juga” Aku menghentikan tangan Mbak Siti yang sedang memijit digit HP nya. “Nggak perlu, aku dan firyawan sudah putus.” Nada cetusku. Ku pandang wajah Mbak Siti lekat-lekat wajahku pun berubah manis bertabur senyum dan memeluk Mbak Siti. Ia pun memelukku dengan isak tangis seperti anak yang tak mau kehilangan Ibunya. “Sudah lah..., aku juga nggak mahu kita putus persahabatan karena cowok.” Ia pun tersenyum padaku dan aku pun meledeknya. “Nah... gitu dong senyum..., kalau nangis kelihatan jeleknya.” Semuanya telah berakhir aku pun berfikir untuk kirim SMS buat Firyawan, untuk meminta maaf atas tuduhanku. “Mas Fir, sedatangnya SMS ini aku mau minta maaf atas tuduhanku, ternyata aku terbakar api cemburu sehingga Sambel Goreng Cintanya gosong..., Mas Fir mahu memaafkan aku kan?.” SMS Telah terkirim. Sudah tiga hari Firyawan tak kunjung balas SMS ku jua... “apakah dia benar-benar marah padaku, apakah yang terjadi padanya?.” Hatiku penuh tanda tanya. Selang beberapa hari aku mendapat SMS misterius “Aku lah Arjuna!” berulang-ulang aku baca SMS tersebut, lalu aku balas. “He...! Arjuna kesasar, Emeng guwe pikirin elu siapa.” “Aku lah Arjuna yang mencari cinta, wahai wanita cintai lah aku...” Kembali ia kirim SMS tersebut “Aku kasih tahu kamu yah..., di sini nggk ada Cinta atau pun Sinta.” Aku menyelidiki SMS tersebut, kalau aku lihat dari nomer telpon ini nomor dari Malasiya, tapi aku tak punya teman di Malasia selain Firyawan. “Kamu pasti Mas Fir ya...? awas yah nggk ngaku nanti aku kelitikin biar mampus.” Aku coba menebak. “Oke deh... aku ngaku aku Firyawn, sini kalau kamu bisa ngelitikin aku?” “Oke, kamu jangan lari ya...” Akhirnya ia menggaku bahwa ia adalah Firyawan, hubunganku denganya pun kembali bersatu, hidup ini rerasa indah bila dia ada di sisihku dan menemani hari-hariku walau dalam SMS.

Senin, 24 September 2012

Berpisah Untuk Bersatu

“Majikan kamu baik, istrinya orang Indonesia, mereka orang kaya tinggal di Tai Po. Sekarang saya antar kamu ke kantornya majikan kamu, nanti pulang kerumahnya naik mobil, kamu duduk di jok belakang yah..” Tutur Lam Day kepada Intan. Lam Day yang berumur setengah baya itu adalah penyalur tenaga kerja di Hong Kong, Ia terkanal baik dan bertanggung jawab kepada anak buahnya.

“Iya, Lam Day.” Jawab Intan serasay senyum.
Lam Day mengantar Intan ke kantor majikanya yang terletak di kawasan Lai Chi Kok. Sesampai di kantor, Intan dan Lam Day disambut oleh sekertaris cantik. Sekertaris itu tidak kalah cantiknya dengan Intan yang berpenampilan sederhana. Intan mempunyai pastur ideal tinggi badan 175 rambut panjang ikal, wajah oval, matanya bulat seperti gadis Korea. Tak seharusnya gadis secantik Intan menjadi seorang pembantu rumah tangga di Hong Kong, apa boleh buat kalau memang garis perjalanan hidup Intan harus menjadi seorang pembantu. Walaupun ia anak semata wayang dari ibunya yang melahirkanya tanpa seorang Ayah. Sejak kecil ia hidup bersama Nenek dan Kakeknya di kampung, sementara Ibunya bekerja di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga semenjak Intan masih kecil.


Setelah sekertaris cantik itu menyuguhkan dua gelas air putih, sekertaris itu kembali ke dalam ruangan Tuan Tan. Tak lama kemudian ia keluar kembali disertai dengan senyuman. Sekertaris itu berucap dengan logat bahasa cantonis yang fasih.
“Tunggu sebentar ya, sebentar lagi Tuan Tan keluar.”
“Kalau begitu saya pulang dulu.” Sahut Lam Day.
“Kenapa terburu-buru?” Tanya sekertaris itu.
“Saya cuman mengantar Intan, dia yang akan bekerja di rumah Tuan Tan.” Lam Day, seraya memegang bahu Intan.
Sekertaris itu paham maksud Lam Day, sekertaris itupun tersenyum mempersilakan Lam Day undur diri dan mengantarnya sampai depan pintu kaca, pintu kaca itu  terbuka otomatis, jika ada orang di depan pintu.
Sekertaris itu kembali tersenyum kepada Intan dan berkata.
“Di sini ada majalah, kamu boleh lihat-lihat sambil menunggu Tuan Tan.” Tutur sekertaris itu.
“Terimakasih..” Jawab Intan.
Tak lama kemudian Tuan Tan keluar dari ruangan, Ia langsung menghampiri Intan dan bertanya.
“Are you Intan?”
“Yes Sir.” Jawab Intan
“Let’s go, we going home now.” Tampa banyak bicara, Intan mengikuti Tuan Tan  menuju car park.


Mobil sedan lancer {mitsubisi} sudah menunggunya, “Pok-pok!” suara Mobil bertanda kuncinya telah terbuka, lalu Tuan Tan membantu Intan memasukan koper miliknya ke dalam bagasi. Setelah itu Tuan Tan masuk kedalam mobil di ikuti Intan, ia duduk di jok belakang seperti yang Lam Day sarankan padanya.
Mobil melaju meninggalkan gedung yang menjulang tinggi, gagah perkasa lengkap dengan fasilitas kenyamanan itu. Di dalam Mobil  Intan terdiam seribu bahasa, pandanganya keluar jendela, ia menikmati perjalanan itu seakan terkesima dengan keindahan Hong Kong, walau pun jam  pulang kantor, namun lalulintas tidak macet. Tuan Tan mengendarai mobilnya terlihat asyik mendengarkan radio RTHK.

“Hem.., Intan tidak pulang ke Indonesia?” Tuan Tan membuka pembicaraan.
“Tidak.” Jawab Intan dengan gugup,
“Apakah kamu tidak kangen pada keluargamu?” Kembali ia bertanya.
“Mm, kangen sich, tapi saya bisa mengatasinya dengan cara menelfon mereka.”
“Berapa sodara kamu punya?”
“Saya tidak punya sodara, sejak kecil saya hidup bersama Ibu, Nenek dan Kakek di kampung. Sementara Ibu bekerja di Jakarta untuk menafkai saya, nenek, dan kakek. Jadi saya ingin bekerja untuk membantu mereka agar ibuku tidak usah lagi bekerja di Jakarta.”
“That’s good kamu gadis yang baik, saya pernah ke Indonesia bersama istriku. Aku kagum  melihat orang Indonesia makan pakai jemari tangan.” Tutur Tuan Tan pada Intan seraya tertawa. Intan pun tersenyum ringan dan berkata
“Dalam ajaran agama Islam Nabi menyunahkan makan pakai jemari tangan. Jika kita selesai makan kita jilati jari-jari kita, itu akan terasa nikmat dan disitu banyak berkah dan barokahnya. Jadi bukan hanya orang Indonesia saja yang makanya pakai jemari tangan tetapi seluruh umat islam di dunia ini. For the exsapel orang miskin meminta-minta kita harus memberi di atas telapak tangan pengemis itu, dan kita tidak boleh memberinya di dalam kaleng, karena jika kita memberi di telapak tanganya maka Allah lah yang pertama kali menerimanya dan memberi pahala bagi pemberinya.”
“Benarkah dalam ajaran Islam sepeti itu?” sahut Tuan Tan penuh heran. Intan tersenyum mantap meyakinkanya.


Mobil memasuki kawasan rumah elit, di sana berjajar rumah besar-besar nan indah bertingkat tiga “ Pemukiman rumah di sini seperti pemukiman rumah elit di Jakarta” batin Intan.
 Di depan pintu gerasi mobil berhenti Tuan Tan memencet tombol rimut kontrol untuk membuka pintu gerasi. Setelah pintu terbuka mobil masuk ke halaman rumah yang luas itu.
Tuan Tan turun dari mobil diikuti Intan seraya menarik koper bawanya. Ketika masuk kedalam rumah Tuan Tan dan Intan disambut oleh istri Tuan Tan, ia kerap di panggil Ibu Yeyen. ia menunjukan kamar Intan dan menyuruhnya menaruh barang bawaanya. Intan merasa terkesima dengan kamar yang di tunjukan Ibu Yeyen itu terlalu bagus buatnya. setelah itu Ibu Yeyen mengajak Intan makan malam bersama, tak terasa air mata Intan meleleh.
“Intan kenapa kamu menangis?” tanya Ibu Yeyen.
“Saya cuman terharu makan bersama kalian aku tidak pernah merasakan makan bersama kedua orang tuaku, aku merasa kalian berdua sosok kedua orang tuaku.”
“Sudah lah... anggap kami seperti orang tua kamu sendiri.” Ibu Yeni mengelus bahu Intan dengan tatapan penuh kasih sayang.
Seusai makan malam Intan membereskan  dapur dan membereskan peralatan dapur.

Dari luar terdengar pintu gerbang terbuka, Suara mobil menderu memasuki halaman dan berhenti di halaman parkir mobil. Sosok pemuda menurunkan langkah kaki kanannya dari mobil, ia keluar dari mobil seraya mencangklong tas punggungnya. Ia melangkah tangan kananya seraya memainkan konci mobilnya. Di depan pintu ia menempelkan card untuk membuka pintu. Di ruang tamu ia mnghempaskan tas punggungnya kedalam pangkuan sofa. Lalu masuk ke ruang makan dan membuka kulkas mengambil soft drink, ia meminum dengan rasa lenga telah sirna sudah rasa dahaga yang ia tahan selama dalam perjalanan.
Ia menuju dapur melihat Intan dari belakang, Intan terlihat sibuk membenahi peralatan dapur di lamari.
“Mbak tolong siapkan makan malam buat saya” pintanya pada Intan, Intan pun segera menengok kearah suara, belum sempat ia menjawab permintaan pemuda itu ia terkejut melihat sosok pemuda yang ia sudah  kenali semenjak kecil,  dia adalah Charles kekasihnya saat ia masih duduk di banggku sekolah SMP. Intan hanya tak dapat mengenali suaranya karena sudah bertahun-tahun tak mendengar suaranya.
Bayangan slide show masalalunya kembali mncul diantara  benak keduanya,  Intan teringat sepulang sekolah bergandeng tangan denganya, dan terpergoki oleh Mamih orang tua Charles, dengan pandangan tidak suka.
Begitu pula dengan Charles, Ia pun sangat terkejut melihat Intan berada di rumah Tantenya, dalam benaknya tersimpan tanda tanya.
“Kamu Intan...?” Tanya Charles dengan pandangan terpana, Intan berusaha berpaling dari tatapan mata pemuda itu. Ia tanpa menjawab pertanyaanya, ia segera membuka kulkas dan mengambil makanan dan memanaskan ke dalam micrower.
“Saya siapkan makan malam buatmu” Jawab Intan tanpa menghiroukan pertanyaan Charles. Charles masih berdiri terpaku dengan pandangan penuh tanda tanya.
Makan malam telah Intan siapkan di atas meja, Intan meningalkan Charles di ruang makan tanpa sepatah kata.
“Intan..!!.” pangilanya mengiringi langkahnya. Langkah  Intan pun terhenti dan melihat kearah Charles.
“Selesai makan ketuk pintu kamarku.” Balas Intan dengan nada tenang, lalu ia melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga yang terbuat dari marmer.
Di dalam kamar Intan duduk di depan meja rias, ia melihat dirinya di depan cermin memory masa kecilnya mengambang di permukaan cermin.
Sejak kecil Intan tinggal bersama Ibunya yang bekerja di Jakarta sebagi pembantu rumah tangga. Intan dianggap anak oleh Nyoya Anita, yaitu majikan Sumi ibu dari Intan. Sementara Yonya Anita mempunyai seorang anak laki-laki ia bernama Charles, umur antara Intan dan Charles tidak berbeda jauh. Dalam kegiatan mereka pun selalu bersama. Mulai bermain, belajar dan berangkat kesekolah pun mereka selalu bersama hingga memasuki usia tanggung kelas 3 SMP, mereka sudah mengenal cinta satu sama lain, waktu itu mereka menjalin cinta tampa sepengetahuan orang tua mereka.
Ketika pulang sekolah, di depan rumah mereka bergandeng tangan, tampa mereka sadari sepasang mata memperhatikannya. Dan tiba-tiba Nyoya Anita muncul dari balik pintu. Melihat Intan dan Charles dengan pandangan tidak suka, secara sempotan pasangan si joli-joli cinta monyet itu melepaskan gandengan tanganya. Charles menghampiri Nyoya Anita dan menyapanya.
“Mamih...,” Namun Ia tidak menyahut, di susul sapaan Intan.
“Tante...,” Ia pun tak menjawab.
Intan dan Charles masuk kedalam kamar masing-masing, Charles di ikuti Mamih-nya.
Seperti biyasanya pulang sekolah mereka makan siang bersama, tetapi hari itu berubah menjadi sebuah kekecewaan bagi Intan. Begitu pula dengan Carles, ia ditahan di kamarnya. Intan sudah menunggu lama di ruang makan namun mereka tak kunjung keluar untuk makan bersama.
Selang sepuluh menit Nyoya Anita keluar dari kamar anaknya dan menuju ruang makan tampa memperhatikan Intan yang sedang duduk di depan meja makan, dan piring masih kosong.
“Sumi, hari ini anak saya makan di kamar, tolong kamu siapkan dan bawa kekamarnya.” Perintah Nyoya Anita.
Sumi merasa aneh dengan sikap majikanya itu yang sudah menganggap keluarganya sendiri. Sumi melihat kearah anaknya yang sedang tertunduk di depan meja makan ia paham apa yang terjadi. Tampa banyak bertanya Sumi segera menyiapkan makanan dan membawanya kedalam kamar anak majikanya.
Setelah Sumi mengantar makanan kedalam kamar Charles, ia segera melayani anaknya agar segera makan. Namun Intan tetap terdiam, wajahnya di liputi kekecewaan yang mendalam. Ibunya  bertanya apa yang terjadi?  namun ia hanya menggeleng kepala. Hingga Sumi dipanggil kembali oleh Nyonya Anita untuk membereskan makanan di kamar Charles, Iintan masih tetap tidak bergeming.
“Sumi, setelah selesai pekerjaanmu saya ingin bicara denganmu.” Pinta Nyonya Anita.
“Baik Nyoyah.” Jawab Sumi, Intan mendengar suara itu lalu ia berlari kekamarnya dan menutup pintu kamar ia menghempaskan tubuhnya di ranjangnya. isak tangis tak bersuara memenuhi rongga dadanya ia takut apa yang akan bakal terjadi, ia takut kehilangan Charles, ia takut segalanya. Hari itu pun menjadi sebuah yang menegangkan bagi Intan, ia mengurung diri di kamar tampa ia sentuh PR dari sekolah. Ia berusaha menguatkan diri dan menerima kenyataan yang ada. Dihapusnya airmatanya dam memulai mengerjakan PR namun ia tak bisa konsentresi.
Sore pun telah tiba, Intan pun tak melihat batang hidung Charles dan Tante Anita untuk makan malam bersama. Lagi-lagi Charles makan di kamarnya, Intan hanya makan sedikit untuk mengganjal perutnya yang kosong karena ia tak makan siang. setelah itu Intam membantu ibunya mencuci piring di dapur,  lalu ia masuk dalam kamarnya dalam benaknya diliputi dengan tanda tanya, “ Charles di kurung di kamarnya, apa yang bakal terjadi esok hari?” Batin Intan
Malam itu pun menjadi malam kegelisahan yang tak berujung, ia melihat ibunya tengah melipat pakaian dan mengemasnya kedalam koper
“Bu, kenapa pakean Intan di masukan kedalam koper semua?” Tanya Intan,  Sumi hanya terdiam menahan kesal pada anaknya
“Sebenarnya tadi siang Tante Anita ngomong apa sama Ibu?” Intan menghentikan tangan Ibunya yang tengah sibuk membereskan pakainya. Sumi memandang wajah anaknya dengan wajah berkaca-kaca, lalu Intan memeluk ibu tercinta penuh dengan kasih sayang.
“Intan, kamu sudah dewasa, kamu sudah tau cinta. Ibu tau kamu menjalin cinta moyet dengan Charles, kalau hubunganmu berlanjut apa kata orang, kamu haya anak seorang pembantu, Charles anak majikan. Apa kata keluarga besar Nyoya Anita tentang anaknya. Intan, Nyonya Anita sudah begitu baik kepada kita ia telah memberi kita kehidupan dam menyekolahkanmu seperti anaknya sendiri. Ia tak mau jika hubunganmu dengan anaknya berlanjut. Ia meminta agar kamu sekolah di kampung dan tinggal bersama Kakek, Nenekmu. Besok Nyoya Anita yang akan mengurus surat di sekolahmu untuk  pindah sekolah, dan besok Ibu yang akan mengantarmu pulang kampung.” Mata Intan terbelalak mendengar ibunya bicara, ia mundur dari hadapan ibunya seraya menggelengkan kepala.
“Tidak Bu, Intan ingin selalu bersama Ibu.”
“Jika Intan sayang Ibu dengarkanlah Ibumu ini bicara dan kerjakan apa yang Ibu perintah” Air mata Intan menetes deras dan memeluk Ibu tercinta, ia menganggukkan kepala, bertanda setuju akan melakukan apa saja untuk membahagiakan Ibu tercintanya. Sejak itulah intan tinggal di kampung bersama kakek dan neneknya. Meneruskan sekolah SMA dan belajar mengaji. “Tok..., tok... tok...” terdengar suara pintu kamarnya ada yang mengetuk. Cermin dihadapannya menengglamkan slide show masa lalunya, Intam mendapati dirinya di depan cermin wajahnya beruraian air mata, ia segera menghapusnya. Intan membuka pintu kamar sosok pemuda berdiri tegap dengan tangan terselip di saku celana jins, ia tersenyum pada Intan dan bertanya.
“Kamu menangis?” Intan menggelengkan kepala dan berlalu dari hadapan Charles,  lalu ia melangkah ke ruang makan untuk membereskan meja makan. Dengan cepat Intan kembali kekamarnya. Saaat ini Intan benar-benar merasa bahagia dan bercampur sedih, ia bahagia do’a yang ia panjatkan agar bisa bertemu dengan Charles gini telah terjawab, tetapi ia merasa sedih karena hubungan cinta moyetnya tidak direstui orang tua Charles. Intan sesekali menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya, nanun itu tidak cukup lalu ia mengambil air wudhu dam melaksanakan shalat sunah agar menenangkan jiwanya dan mengadukan segala apa yang ia rasakan kepada Allah SWT.
Setelah sahlat, Intan membaringkan tubuhnya di ranjang ia pejamkan matanya namun ia tidak tidur. Ia pun beranjak dari ranjangnya dan melangkah kearah jendela kaca yang lebar dan ia membuka korden. Terlihat sang rembulan menyinari malam dengan berseri-seri, Intan memandang sang rembulan penuh dengan taksim. Ia melihat keteras kamar Charles ia melihat sosok pemuda yang sedang duduk di kursi santai sambil menikmati indanya sang rembulan.
Charles melihat kearah Intan, mereka bertemu pandangan dan tersenyum. Dengan bahasa isarat tangan Charles meminta nomor telfoon gadis cantik pujaan yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya. Intan segera menulis no Hpnya diatas sobekan kertas dan melemparnya ke arah Charles. Charles membuka gulungan kertas kecil itu dan mencatat nomor tlepon di Hpnya ia segera menelpon Intan.
“Kamu belum tidur?” Tanya Charles.
“Aku tak bisa tidur.” Jawab Intan
“Intan...” Pangilan Carles sangat merdu mengusik hulu hati.
“Iya...” Jawab Intan.
“Aku kangen padamu, Aku ingin kita seperti dulu lagi, sewaktu ita masih kecil, kita menjalin cinta monyet dan aku ingin kita menjalin cinta kingkong. Kita akan menjadi kingkong dan kita akan punya monyet-monyet yang lucu-lucu.”
Intan hanya bisa tersnyum mendengarnya.
“Tapi bagemana dengan keluargamu?”
“Sekarang kita disini dan kita sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, percayalah semuanya akan baik-baik saja.”